Nonton TV…boleh, tapi…?

“Aku mau nonton…aku mau nonton Bun…, sebentar aja…” atau…”Ya udah, kamu nonton aja sana, Bunda sibuk nih…”.

Mana dari 2 hal tersebut yang paling sering terdengar di rumah anda? Mungkin ada yang lebih dominan pada kalimat kedua. Apalagi jika ayah bunda bekerja, atau…bunda ada dirumah, namun banyak hal yang harus dikerjakan.

Salah satu tayangan dan mungkin anak anda menggemarinya, yakni tayangan OVJ, lucu memang. Tapi sempatkah ayahbunda perhatikan, ada salah satu adegan digambarkan dengan sangat vulgar dan jelas peristiwa pemancungan, lengkap dengan kepala menggelinding. Terkesan lucu bagi anak-anak…Dan, tahukah ayah bunda, anak akan lebih mudah meniru dari apa yang dilihatnya di televisi.

Selain tayangan,mari kita simak program2 seperti DERING (maaf yang hafal cuman satu…ada juga program serupa di TransTV) dimana anak anak Indonesia pagi hari lebih senang melihat artis2 yang menyanyi. Mengapa mereka harus kesana? Mengapa mereka dibiarkan saja oleh orangtuanya? Mungkin orang tua mereka sudah melarang, namun lagi2 tayangan yang sudah cenderung melekat di otak anak anak kita,membuat mereka dengan mudahnya memberontak dan melawan orang tua.

Rekan saya sesama psikolog, yang kebetulan bekerja di salah satu media tivi mengatakan, betapa sulitnya menentukan program-program yang layak ditonton anak-anak, semua adalah karena RATING. Lagi-lagi rating,lihatlah betapa sinetron2 saat ini banyak sekali yang berada pada rating tertinggi tapi value bagi anak2 NOL. Ada ya murid disekolah bisa ngerjain guru,anak dirumah bisa marah-marah.

Saya mencoba mengutip poin-poin penting pada apa yang disampaikan oleh guru saya, Mas Seto Muyadi, beberapa waktu lalu pada saat blio memaparkan mengenai “Anak-Anak Kita Dalam Bahaya : Dr. Seto Mulyadi Bicara”, blio mengatakan bahwa :

* Pemberitaan media massa baik cetak dan elektronik khususnya yang bernuansa pada tindak kekerasan, pornografi dan berita yang diluar batas etika berperan sangat besar dalam membentuk pribadi anak, karena anak akan cepat meniru apa yang dilihatnya tanpa mengetahui akibat dari setiap pilihan tindakan.

* Salah satu produk media massa yang berdampak negatif terhadap kesehatan sosial masyarakat, adalah program semacam iklan dan tayangan hiburan. Iklan rokok bisa menarik perhatian anak-anak dan remaja, sehingga berpotensi menjadikan mereka sebagai konsumen rokok.

* Kekerasan pada anak dapat menyebabkan anak bertingkah laku agresif, sampai dewasa. Maka tidak heran apabila sekarang terjadi banyak tawuran dari pilkada sampai pertandingan sepak bola.

3 poin tersebut, memang berawal dari televisi. Terkadang kita sebagai orang tua lebih memilih posisi aman, mau anak tidak marah-marah, mau anak tidak menjahili adiknya atau mau agar tidak mengganggu pekerjaan kita, cukup dengan menghidupkan televisi. Memang tidak semua tayangan-tayangan di televisi buruk, namun sebagus apapun tayangan tersebut kita sebagai orang tua harus mendampinginya.

Nah ayah bunda, ternyata nggak mudah juga yah mencari tontonan terbaik buat anak…hanya dengan mendampingi dan membatasi jam menonton kita dapat menjaganya dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.

Salam,halid

468 ad


34 Responses to “Nonton TV…boleh, tapi…?”

  1. mp3 terbaru says:

    Saya setuju dengan apa yang anda jelaskan…..

  2. thanks info yang sangat dahsyat.salam action

Leave a Reply

Switch to our mobile site