Kurikulum 2013…Yuk Awasi Sama-sama…

Ayahbundaers,

Lama nggak bikin tulisan lagi, baru sekarang saya sempatkan untuk menulis. Apalagi sekarang sedang hangat-hangatnya pembicaraan mengenai Kurikulum 2013 (K-13).

Saat menghadiri pertemuan orang tua murid dan guru bahwa di sekolah anak saya mulai diterapkan K-13 terlihat pengharapan, kecemasan dan kekhawatiran orang tua terhadap cara belajar untuk kurikulum baru ini. Tentunya setelah mendapat masukan dari masing-masing guru kelas beberapa orang tua akhirnya bias menerima penjelasan tentang K-13, meskipun setelah pertemuan masih ada bisik-bisik kekhawatiran tentang K-13.

Wajar…itulah jawaban saya sebagai orang tua yang khawatir akan penerapan K-13. Pertanyaan pertama yang muncul, apakah para guru sudah siap dengan segala bentuk elaborasi jawaban anak didik dan pengembangan diri mereka (guru) terhadap IPTEK secara luas. Sehingga tidak hanya terpaku pada pola pikir yang konvergen (hanya pada satu pemecahan tertentu) namun juga dapat berpikir secara divergen (meluas). Sehingga anak didik pun dapat mengembangkan pemikirannya lebih luas dan kreatif. Karena, inilah salah satu tujuan K-13 (katanya).

Bagaimana menyikapi perubahan K-13 untuk ayahbundaers dan guru ?

1. Segera Komunikasikan

Jika ada informasi yang mungkin ayahbunda belum paham, atau sulit untuk menerimanya, jangan ragu untuk menanyakan hal ini ke guru/kepala sekolah. Minta penjelasan secara detail mengenai informasi tersebut. Karena di setiap sekolah yang sudah menerapkan K-13 biasanya sudah dibentuk komite kurikulum dimana mereka (para guru) terus mencari dan mengembangkan diri untuk anak didiknya. Komunikasi dua arah adalah hal penting yang dilakukan. Jadi, terutama untuk Ibu, ketika menjemput anak-anak sekolah sempatkan menyibukkan diri untuk menanyakan tentang hal-hal yang belum dipahami ke guru kelas.

2. Jangan Takut Berbeda

Salah satu penekanan K-13 ini adalah, membantu siswa untuk berpikir secara kreatif. Oleh karena itu, bimbing anak-anak anda saat mencari tugas-tugas sekolah. Pahami objektif tema saat itu dan jelaskan kepada anak-anak perbedaan apa yang tertulis dengan apa yang dia temui dalam literature lainnya. Contoh :

Anak diminta untuk praktek membuat rangkain lampu menggunakan baterai, lampu kecil dan kabel. Didalam buku tertulis cara dan posisi yang benar untuk merangkai lampu tersebut. Haruskah sama dengan buku tersebut? tentu tidak. Pahami terlebih dahulu objektifnya, bahwa aliran listrik akan mengalir jika…, maka ketika anak bisa membuat rangkaian dengan cara lain, patut dihargai dan digali lebih dalam pemahaman ‘berbeda’ nya.

3. Berikan Kesempatan

Guru juga harus bisa terbuka dengan masukan-masukan dari anak didiknya. Jika perlu diskusikan lebih lanjut dan jadikan hal tersebut sebagai suatu tambahan Ilmu baru bagi guru dan anak didik lainnya. Jangan terfokus pada pola pikir konvergen.

4. Periksa Kembali Bahan Ajar Buku Tematik

Baik ayahbundaers maupun guru, harus mempelajari isi dari buku tematik tersebut. Jangan lupa, belum tentu semua isi buku tematik itu mudah dimengerti oleh anak-anak kita. Jangankan anak-anak, kadang-kadang kita sebagai orang tua pun suka dibuat pusing dengan maksudnya apa.

Mungkin 4 hal tersebut yang bisa saya sharing terkait K-13. Tidak perlu khawatir, asal kita sebagai orang tua sudah mendampinginya dengan benar.

 

salam,

halid

468 ad


Leave a Reply

Switch to our mobile site