Maksimalkan Potensi Anak Anda

Ayahbundaers,

Ide membuat tulisan ini muncul seketika saat kami (saya dan istri) bersiap mulai menjadi ‘guru’ menghadapi persiapan EHB akhir putri kami. Suatu kebiasaan lazim bagi orangtua mulai sibuk dengan latihan soal-soal, sementara anak menghadapi masa EHB dengan tenang, bahkan santai :)

Mengingat dari awal kami berkomitmen untuk merasa belum perlu mengikutkan anak untuk les ini itu, maka sudah sewajarnya tugas para guru-guru bimbel pindah ke kami. Prinsipnya setiap anak pasti memiliki potensi lebih, tinggal bagaimana mengasahnya. Kecemasan tentu masih ada pada diri kami, ketika semua ‘amunisi’ metode belajar sudah diterapkan. Akhirnya, muncul ide terakhir untuk membuatkan kalimat-kalimat suportif yang kemudian kami tempelkan di pintu kamar. kalimat tersebut misalnya :

Selamat menjalankan EHB, Ayooo…kamu bisa…perhatikan tanda baca yaa…atau, Jangan terburu-buru mengerjakan soalnya ya Nak…

Tulisan-tulisan tersebut ternyata akan menjadi positive reinforcement bagi anak tanpa harus kita dikte, ayo belajar…loh kok kamu nggak les…

Saat bersamaan, seorang Ayah yang juga teman saya melakukan konsultasi melalui bbm. Ia mengatakan, karena anaknya sudah kelas 5 SD, ia dan istrinya sepakat mencari bimbingan belajar untuk les beberapa mata pelajaran. Namun, mereka menjadi khawatir anaknya kelelahan karena waktu belajar di sekolah pun sudah terlalu padat baginya. Saya pun mengajukan pertanyaan sederhana :

“Apakah Kakak selama ini nilai pelajarannya jelek? atau ada mata pelajaran tertentu yang bermasalah?. dari pembicaraan kita selama ini, saya tidak melihat Kakak nilainya jelek ya, lantas kenapa harus les?”

Akhirnya Sang Ayah memutuskan untuk berpikir lagi. Sebulan berlalu setelah EHB, Sang Ayah kembali mengabarkan bahwa ketiga putrinya mendapat predikat terbaik di kelasnya masing-masing.

Dari kasus diatas, kita sebagai orang tua sering merasa waktu belajar anak kurang efektif. Hal ini bisa  disebabkan karena kelelahan dan konsentrasi, Sehingga kita menganggap prestasinya tidak maksimal. Les, bukan satu-satunya keputusan yang harus diambil. Support dan motivasi dari orang tua sangat diperlukan dalam hal ini.

Lantas, siapa sebenarnya yang kurang percaya diri? anak atau orang tua?

 

salam,

Halid

*Dedicated for Ayah Ganesya Varandra :)

468 ad


Leave a Reply

Switch to our mobile site