Sekolah…Tidak Mencetak Anak Langsung Jadi

Sekolah…Tidak Mencetak Anak Langsung Jadi

Ayahbundaers,

Saat yang paling saya sukai bersama anak adalah, menghadiri pertemuan sekolah. Disanalah berbagai macam tipe orang tua bisa saya lihat. Kebetulan pada hari ini ada agenda persiapan tes formatif, saya menghadiri undangan tersebut karena akan membahas perkembangan belajar anak.

Setelah guru memaparkan beberapa agenda, diantaranya agenda membahas hal hal umum, maka sesi tanya jawab pun dimulai. Dari beberapa pertanyaan orang tua murid, banyak hal yang dapat kita (saya) pelajari, diantaranya adalah :

1. Bu guru, saran aja bisa nggak jam pelajarannya ditambah, biar anak saya belajarnya serius…misalnya yang biasanya sampe jam 2, ditambahin 1 jam sampe jam 3….

Bahasan : siswa kelas 1 tidak disarankan untuk menerima beban jam belajar yang berat. Masihkah kita ingat, pada saat ayah bunda berada di kelas I? berapa jam ayah bunda belajar di sekolah?. Jika jam belajar di sekolah mulai pukul 07.00 s/d 14.00, sebaiknya pada malam hari anak jangan dipaksa lagi untuk belajar secara serius. Ayah bunda bisa menciptakan suasana belajar yang santai sesuai dengan topik pelajaran esok harinya.

2. Bu, di sekolah ada les nggak ya? soalnya kan saya kerja. Nggak apa deh saya berkorban jemput  Aldi (nama samaran) sore-sore, daripada saya nggak sempet ngajarinnya saat pulang kerja.

Bahasan : Ayah bunda, sekolah hanya sebagai sarana dalam mendidik anak. Kunci terpenting dalam pendidikan anak adalah di rumah. Ayah bunda memegang peranan penting dalam hal ini. Tidak hanya berfungsi sebagai mendalami pelajaran, belajar bersama ayah dan bunda akan membentuk dukungan dan motivasi secara tidak langsung kepada anak. Sehingga anak akan lebih percaya diri.

3. Bu, tolong diliatin juga dong loker anak saya sekali sekali, kok berantakan banget sih, ditegur aja Bu.

Bahasan : Ayah, bunda…tidak mungkin anak akan melakukan suatu hal jika tidak melihat contoh atau model. Biasakan menegur anak jika meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Setelah teguran tersebut berhasil ayah bunda lakukan, konsisten terhadap teguran tersebut. Artinya, jika suatu saat anak mengulangi perbuatan itu kembali, teguran perlu ditegakkan.

Sungguh, pertanyaan ayah bunda tadi sangat menggelitik  dan mengoreksi diri saya sendiri. Semoga banyak hal yang dapat kita petik dari pengalaman ayah bunda lainnya.

Salam,

Halid

468 ad


Leave a Reply

Switch to our mobile site